Besoknya, proses pindahan ke tempat tinggal baru Mei terbilang lancar. Kardus-kardus berhasil masuk, kamar barunya terlihat nyaman, modern dan rapih, bahkan terasa lebih “hidup” dibanding yang lama.
Harusnya semua baik-baik saja. Tapi entah kenapa, di hati Mei ada rasa yang belum ikut pindah, ada ganjalan kecil yang membuatnya belum benar-benar betah.
Setelah semuanya selesai, baru sadar ada barang yang tertinggal di tempat tinggal lama. Jadi kami pun harus kembali ke sana.
Berhubungan Mei dan Jun sudah merasa lelah, malas untuk kembali ke tempat lama mengambil barang yang tertinggal, jadilah aku dan Excel yang mengambil barang tertinggal itu ke sana.
Hari itu jadi pertama kalinya, setelah sekian lama, aku kembali duduk di belakang motor Excel. Rasanya aneh sekaligus familiar. Dulu, waktu kami masih kerja di tempat yang sama sempat ada momen seperti ini.
Iya, kami pernah jadi rekan kerja di tempat yang sama sebelumnya. Mei sering mengantar dan menjemputku kerja saat itu. Tapi kalau Mei berhalangan, dia akan minta tolong ke Excel untuk mengantarku pulang. Tidak sering memang. Hanya beberapa kali, tapi cukup untuk membuat momen-momen kecil itu tersimpan rapi di ingatan.
Saat itu tentu saja aku tidak pernah berpikir apa-apa. Tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaan sederhana duduk di jok belakang motor, berbagi perjalanan pulang, obrolan singkat di lampu merah suatu hari akan berubah makna.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada akhirnya, hanya aku dan Excel yang kembali untuk mengambil barang yang tertinggal itu.
Ada beberapa percakapan yang sempat terucap di antara kami pagi itu. Ringan, mungkin atau mungkin penting, aku sendiri tidak lagi yakin. Yang tersisa hanya potongan-potongan suasana: suara kami yang bercampur dengan riuh jalanan, tawa kecil yang sesekali muncul, dan jeda-jeda hening yang entah kenapa terasa nyaman.
Aneh rasanya, bagaimana detail pembicaraan bisa memudar begitu saja, tetapi perasaan saat itu tetap tinggal dengan jelas. Aku lupa kami membahas apa, kata per kata, kalimat per kalimat. Namun aku masih ingat bagaimana caranya ia menoleh ketika berbicara, bagaimana angin pagi menggerakkan rambutnya, dan bagaimana waktu terasa berjalan lebih pelan dari biasanya.
Mungkin memang bukan tentang apa yang dibicarakan.
Mungkin yang penting adalah dengan siapa percakapan itu terjadi.
Sepulang dari sana, jalanan menuju kosan Mei ternyata sedang ramai karena ada acara semacam car free day. Gerobak pedagang berderet, aroma makanan bercampur di udara, dan suara orang-orang yang tertawa membuat suasana pagi itu terasa ramai dan hidup.
Mataku langsung berbinar. Terlalu banyak jajanan yang menggoda untuk diabaikan.
“Bolehkah berhenti sebentar untuk membeli jajanan?” pintaku pada Excel.
Ia menurut saja.
Begitu turun, aku langsung dihadapkan pada lautan pilihan. Dari yang manis sampai gurih, semuanya seperti memanggil-manggil. Justru karena terlalu banyak, aku malah jadi bingung sendiri. Tempatnya penuh, antreannya panjang, dan aku bisa merasakan waktu berjalan lebih lama dari seharusnya.
Sesekali aku melirik ke arah Excel yang menunggu. Rasanya tidak enak membuatnya berdiri terlalu lama hanya karena aku kalap ingin jajan.
Akhirnya, yang masih kuingat dengan jelas hanyalah Taiyaki berbentuk ikan dengan isian cokelat hangat. Sepertinya aku juga membeli telur gulung dan beberapa camilan lain yang kini sudah samar dalam ingatan.
Yang jelas, tanganku penuh plastik jajanan, dan hatiku campur aduk antara senang dan merasa bersalah.
Dan benar saja, aku membuatnya menunggu cukup lama.
Sesampainya di kosan Mei, tanpa banyak kata, aku menyodorkan satu Taiyaki padanya.
“Ini buat kamu,” kataku pelan.
Itu mungkin hal kecil. Hanya sepotong kue berbentuk ikan dengan cokelat di dalamnya. Tapi bagiku, itu caraku berterima kasih untuk waktu yang ia relakan, untuk sabar yang ia berikan, dan untuk pagi yang diam-diam terasa berbeda dari biasanya.
No comments:
Post a Comment