Hari itu, langit menggantung rendah di atas kota, kelabu dan berat seolah menyimpan rahasia yang belum sempat diucapkan. Di bawah mendung yang nyaris pecah itulah pertemuan kami dimulai.
Bukan pertemuan yang direncanakan, bukan pula yang pernah terlintas dalam bayangan.
Dua orang asing, berdiri di garis waktu yang sama, tanpa pernah membayangkan bahwa suatu hari kami akan saling memanggil dengan sebutan “kita.”
Semua terasa begitu mudah baginya saat itu. Seolah takdir sedang berdiri di belakangnya, mendorong setiap langkahnya agar jatuh tepat pada tempatnya. Sementara aku hanya mengikuti arus, belum menyadari bahwa hari yang kelabu itu diam-diam sedang menulis bab pertama dari kisah yang akan mengubah segalanya.
Pada awalnya, kami bukanlah dua orang asing yang sama sekali belum pernah bersinggungan. Semesta pernah mempertemukan kami beberapa kali sebelumnya, dalam kesempatan-kesempatan kecil yang nyaris tak berarti. Pertemuan singkat, sapaan seperlunya, lalu berlalu begitu saja seperti orang-orang lain dalam hidup yang tidak pernah benar-benar tinggal.
Kebetulan, ia adalah teman dari adikku sendiri. Hubungan yang terasa aman, netral, dan tak mengandung kemungkinan apa pun.
Perkenalkan, namaku Reze. Tentu saja itu bukan nama asliku. Aku meminjamnya dari nama tokoh anime yang pernah begitu kusukai, sampai sebuah kejadian membuatku tak lagi mampu memandangnya dengan perasaan yang sama.
Lucu ya ... Bahkan fiksi pun bisa kehilangan maknanya setelah kenyataan ikut campur.
Dan laki-laki itu… akan aku beri nama dia Excel dari "X”、seperti nama sebuah perangkat lunak yang rapi, penuh angka, logika, dan perhitungan. Terstruktur. Terlihat mudah dipahami. Padahal, semakin dalam dibuka, semakin banyak rumus tersembunyi yang tak semua orang mengerti.
Aku tidak pernah menyangka, dari sekian banyak wajah yang lalu-lalang dalam hidupku, justru dialah yang suatu hari akan mengubah arah jalanku atau mungkin, membuatku tersesat cukup lama di dalamnya.
Hari itu, Januari 2023.
Kami masih sebatas orang-orang yang saling menyapa seperlunya, cukup tahu nama, cukup tahu wajah, tapi belum pernah benar-benar saling mengenal.
Perjalanan menuju Bandung dimulai sore hari. Aku ikut menemani adikku, Mei, yang akan pindah kos, bersama satu temannya lagi, Jun. Langit perlahan berubah warna saat mobil melaju meninggalkan kota. Aku duduk diam di belakang kursi pengemudi, memandang jalanan yang memanjang.
Sepanjang perjalanan, hanya ada lagu-lagu sedih dari playlist Mei yang mengisi ruang mobil. Ia memang selalu menyukai lagu dengan lirik patah hati dan nada minor. Musiknya mengalun pelan, seolah menjadi latar untuk sesuatu yang bahkan belum terjadi. Sementara itu, aku tak berkata apa-apa. Hanya menikmati es krim yang kubeli di rest area, membiarkannya meleleh perlahan sebelum sempat menghabiskannya.
Aku tidak tahu mengapa aku begitu diam hari itu. Mungkin karena lelah. Mungkin karena tidak merasa perlu berbicara. Atau mungkin, karena memang tidak bisa mengobrol karena aku tidak begitu akrab dengan teman-teman Mei ini..
Kami tiba di Bandung sekitar pukul tujuh malam. Udara kota itu terasa lebih dingin dibandingkan tempat asal kami. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya ke aspal yang sedikit lembap. Perut kami sudah keroncongan, jadi sebelum apa pun, kami sepakat mencari makan.
Bandung menawarkan terlalu banyak pilihan. Jalanan penuh dengan aroma makanan dan suara percakapan yang saling bersahutan. Di antara kebingungan memilih itulah, aku baru tahu satu hal kecil tentangnya, kami sama-sama tidak suka makan bebek. Hal yang sederhana, nyaris tak berarti, tapi entah mengapa terasa seperti menemukan potongan kecil yang cocok dalam teka-teki.
Jika tidak salah, malam itu aku memesan dimsum… atau mungkin roti bakar. Kenangan tentang makanannya mulai samar, seperti foto lama yang warnanya memudar. Tapi anehnya, ada detail yang justru masih sangat jelas di kepalaku.
Ia mengenakan kaus polos berwarna biru. Poninya yang panjang diikat ke belakang dengan santai, memperlihatkan wajahnya yang diterangi cahaya lampu kedai. Kacamata bulatnya memantulkan kilau kecil setiap kali ia menoleh.
Aku lupa rasa makanan yang kumakan malam itu.
Tapi aku tidak lupa bagaimana ia terlihat.
Meskipun semuanya tampak seperti kebetulan yang tak direncanakan, belakangan aku tahu, ia sebenarnya sudah merencanakan perjalanan itu. Ia bersedia mengantar Mei ke Bandung, dengan satu syarat sederhana: aku ikut.
Hal itu membuat kenangan-kenangan kecil sebelum keberangkatan tiba-tiba terasa berbeda maknanya.
Beberapa jam sebelum kami berangkat, tiba-tiba ada abang Gofood yang datang ke kantor ku. Pengirimnya: Excel. Ia mengirimkan sushi ke tempat kerja ku. Tanpa alasan panjang, tanpa penjelasan berlebihan. Hanya makanan, dan sebuah catatan singkat di dalamnya.
“Selamat makan.” Iseeyaaa
Sederhana, namun terasa hangat.
Aku memang selalu lemah pada hal-hal kecil seperti itu. Catatan kecil, surat. hadiah sederhana yang tidak mahal, tapi terasa dipikirkan. Sentuhan perhatian yang tidak perlu diumumkan ke dunia, cukup diketahui oleh dua orang saja.
Awalnya aku sempat bertanya-tanya.
Ada apa?
Kenapa tiba-tiba?
Namun rasa heran itu tidak pernah lebih besar dari rasa senang yang diam-diam tumbuh di dalam dada. Aku menyukainya. Bukan hanya makanannya. Tapi maksud di baliknya.
Saat itu, aku belum tahu bahwa perhatian kecil seperti itu bisa menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.
Aku hanya tahu satu hal:
Aku tersenyum lebih lama dari biasanya hari itu.