Tuesday, 17 March 2026

愛するように / MIMI Ai suru you ni Lyric Romaji dan Translate Indonesia

 LYRIC ROMAJI 

As I Love You
Seperti Aku Mencintai Kamu



寂しいさの中僕らは生きる

Samishiisa no naka, boku ra wa ikiru

光の先で孤独を歌う

Hikari no saki de kodoku o utau

このまま明日が来なけりゃいいの

Kono mama asu ga konakerya ii no

疲れたくらい言わせてくれよ

Tsukareta kurai iwasete kure yo

夢の中君の声だけが

Yume no naka kimo no koe dake ga

聞こえたような、

Kikoeta you na

問かけるような

Toi kakeru you na

ああ、

Aa ~

この世界で煌めくような

Kono sekai de kirameku you na

生きる意味を探しているの

Ikiru imi o sagashiteiru no

泣いちゃうみたい、夜の瞬き

Naichau mitai, yoru no mabataki

すらも今日は愛させてくれ

Sura mo kyou wa aisasete kure

きっと明日も最後もそうやって

Kitto ashita mo saigo mo sou yatte

心のどっかに絆創膏

Kokoro no dokka ni bansoukou

貼れないままで生きていく

Harenai mama de ikite iku

痛いの痛いの傷口は

Itai no itai no kizu guchi o

生まれた意味は考えない

Umareta imi wa kangaenai

考えたら辛くなるよ

Kangaetara tsuraku naru yo

でも君の音だけは暖かいから

Demo kimi no oto dake wa atatakai kara

このままで居てもいいの

Kono mama de ite mo ii no

ありのままで居てもいいの

Ari no mama de ite mo ii no

一人わからないことばかり

Hitori wakaranai koto bakari

それも全部愛していいの

Sore mo zenbu aishite ii no

ああ、

Aa,

この世界で煌めくような

Kono sekai de kirameku you na

生きる意味を探しているの

Ikiru imi o sagashiteiru no

泣いちゃうみたい、夜の瞬き

Naichau mitai yoru no mabataki

すらも今日は愛させてくれ

Sura mo kyou wa aisasete kure




TERJEMAHAN INDONESIA

 

 

Di dalam kesepian, kita tetap menjalani hidup
Di ujung cahaya, kita melagukan rasa kesendirian
Jika hari esok tidak pernah datang, akan lebih baik
Setidaknya, aku hanya ingin bilang kalau aku sudah lelah
 

Di dalam mimpi hanya suara mu yang terdengar
Seolah memanggil, seolah ingin menanyakan sesuatu


Aa ~

 

Di dunia yang seolah bersinar ini,
Aku mencari makna hidup ku
Kilau malam, membuatu ku seperti ingin menangis
Hari ini, biarkan aku menyayanginya

 

Pasti besok pun, bahkan sampai terakhir pun, akan tetap seperti itu
Di suatu bagian hati ku, yang tertutup dengan plester (band-aid)
Bahkan sudah tidak bisa menempel, aku tetap melanjutkan hidup
Sakit, terasa menyakitkan bagian luka itu


Aku memilih untuk tidak memikirkan makna aku dilahirkan
Jika aku memikirkannya hanya akan terasa menyakitkan
Tapi hanya dengan mendengar suaramu terasa hangat


Bolehkah aku tetap berada di sini?
Bolehkah aku tetap menjadi diriku apa adanya?

Dalam ketidaktahuan yang ku hadapi sendiri
Bahkan hal itu pun, boleh kah aku mencintai semuanya


Aa ~


Di dunia yang seolah bersinar ini,
Aku mencari makna hidup ku
Kilau malam, membuatu ku seperti ingin menangis
Hari ini, biarkan aku menyayanginya

Monday, 9 March 2026

「Time goes by」/ Every Little Thing Lyric Romaji dan Terjemahan

 


漢字

ロマジ ROMAJI

きっときっと誰もが

Kitto Kitto dare mo ga

何か足りないものを

Nani ga tarinai mono o

無理に期待しすぎて

Muri ni kitai shi sugite

人を傷つけている

Hito wo kidzutsuketeiru

会えばケンカしてたね

Aeba kenka shiteta nee

長く居すぎたのかな

Nagaku I sugita no ka naa

意地を張れば尚更(なおさら)

Iji o hareba naosara

隙間広がるばかり

Sukima hirogaru bakari

キスをしたり

Kissu o shitari

抱き合ったり

Daki attari

多分それでよかった

Tabun, sore de yokatta

当たり前の愛し方も

Atari mae no aishikata mo

ずっと忘れていたね

Zutto wasureteita nee

信じ合える喜びも

Shinji aeru yorokobi mo

傷つけ合う悲しみも

Kidzutsuke au kanashimi mo

いつかありのままに愛せるように

Itsuka ari no mama ni aiseru you ni

Time Goes By

Time Goes By

都合悪い時には

Tsugou warui toki ni wa

いつも言い訳してた

Itsumo ii wake shiteta

そうね、そんなところは

Soune, sonna tokoro wa

2人よく似ていたね

Futari yoku niteita nee

安らぎとか、真実とか

Yasuragi to ka, Shinjitsu to ka

いつも求めてたけど

Itsumo motometeta kedo

言葉のように、簡単には

Kotoba no you ni, kantan ni wa

うまく伝えられずに

Umaku Tsutaerarezuni

もう一度思い出して

Mou ichido omoidashite

あんなにも愛したこと

Anna ni mo aishita koto

ありがとうが言える時がくるまで

“Arigatou” ga ieru toki ga kuru made

Say GoodBye

Say Goodbye

残された傷跡が消えた瞬間

Nokosareta kidzuato ga kieta shunkan

本当の優しさの意味が分かるよ

Hontou no yasashisa no imi ga wakaru yo

きっと

Kitto

過ぎた日に背を向けずに

Sugita hi ni se o muke zuni

ゆっくり時間を感じて

Yukkuri jikan o kanjite

いつかまた笑って会えるといいね

Itsuka mata waratte aeru to ii

Time Goes By

Time goes by




TERJEMAHAN : 

Aku yakin, pasti semua orang
Memiliki sesuatu yang kurang
Harapan dan ekspetasi yang terlalu memaksakan
Tanpa sadar kita melukai orang lain


Ketika bertemu, pada akhirnya entah kenapa selalu berakhir dengan pertengkaran
Aku rasa kita terlalu lama bersama
Semakin kita mempertahankan ego masing-masing
Celah diantara kita hanya semakin melebar


Kita saling berciuman,
Saling berpelukan satu sama lain
Mungkin hanya itu sebenarnya yang kita butuhkan.


Cara mencintai yang paling sederhana pun
Entah sejak kapan selalu kita lupakan


Baik kebahagiaan karena saling percaya
Maupun kesedihan karena saling melukai
Semoga suatu hari aku bisa mencintai semuanya apa adanya


Seiring berjalannya waktu .... 


Setiap kali keadaan menjadi buruk


Kita selalu mencari alasan
Ya .. mungkin dalam hal itu
Kita berdua ternyata sangat serupa


Ketenangan juga ketulusan         
Selama ini selalu kita cari


Namun tak semudah kata-kata yang terucap
Perasaan itu tidak pernah benar-benar tersampaikan


Ingatlah sekali lagi
Betapa dalam kita pernah saling mencintai


Hingga tiba saatnya
Kita bisa mengucapkan “Terima kasih” tanpa rasa sakit lagi.


Ucapkan selamat tinggal


Ketika bekas luka yang tertinggal akhirnya menghilang,
barulah kita akan mengerti arti kelembutan yang sesungguhnya.


Aku yakin…


Tanpa memalingkan diri dari hari-hari yang telah berlalu,


Biarkan waktu berjalan perlahan.
Dan semoga suatu hari nanti,
Kita bisa bertemu kembali
Sambil tersenyum.


Seiring berjalannya waktu.

Tuesday, 3 March 2026

Chapter 1 Part II

 Part II 

Sunday, 1 March 2026

Chapter One

 How The Love Story Begin

Hari itu, langit menggantung rendah di atas kota, kelabu dan berat seolah menyimpan rahasia yang belum sempat diucapkan. Di bawah mendung yang nyaris pecah itulah pertemuan kami dimulai.

Bukan pertemuan yang direncanakan, bukan pula yang pernah terlintas dalam bayangan.

Dua orang asing, berdiri di garis waktu yang sama, tanpa pernah membayangkan bahwa suatu hari kami akan saling memanggil dengan sebutan “kita.”

Semua terasa begitu mudah baginya saat itu. Seolah takdir sedang berdiri di belakangnya, mendorong setiap langkahnya agar jatuh tepat pada tempatnya. Sementara aku hanya mengikuti arus, belum menyadari bahwa hari yang kelabu itu diam-diam sedang menulis bab pertama dari kisah yang akan mengubah segalanya.

Pada awalnya, kami bukanlah dua orang asing yang sama sekali belum pernah bersinggungan. Semesta pernah mempertemukan kami beberapa kali sebelumnya, dalam kesempatan-kesempatan kecil yang nyaris tak berarti. Pertemuan singkat, sapaan seperlunya, lalu berlalu begitu saja seperti orang-orang lain dalam hidup yang tidak pernah benar-benar tinggal.

Kebetulan, ia adalah teman dari adikku sendiri. Hubungan yang terasa aman, netral, dan tak mengandung kemungkinan apa pun.

Perkenalkan, namaku Reze. Tentu saja itu bukan nama asliku. Aku meminjamnya dari nama tokoh anime yang pernah begitu kusukai, sampai sebuah kejadian membuatku tak lagi mampu memandangnya dengan perasaan yang sama. 

Lucu ya ... Bahkan fiksi pun bisa kehilangan maknanya setelah kenyataan ikut campur.

Dan laki-laki itu… akan aku beri nama dia Excel dari "X”、seperti nama sebuah perangkat lunak yang rapi, penuh angka, logika, dan perhitungan. Terstruktur. Terlihat mudah dipahami. Padahal, semakin dalam dibuka, semakin banyak rumus tersembunyi yang tak semua orang mengerti.

Aku tidak pernah menyangka, dari sekian banyak wajah yang lalu-lalang dalam hidupku, justru dialah yang suatu hari akan mengubah arah jalanku atau mungkin, membuatku tersesat cukup lama di dalamnya.

Hari itu, Januari 2023.
Kami masih sebatas orang-orang yang saling menyapa seperlunya, cukup tahu nama, cukup tahu wajah, tapi belum pernah benar-benar saling mengenal.

Perjalanan menuju Bandung dimulai sore hari. Aku ikut menemani adikku, Mei, yang akan pindah kos, bersama satu temannya lagi, Jun. Langit perlahan berubah warna saat mobil melaju meninggalkan kota. Aku duduk diam di belakang kursi pengemudi, memandang jalanan yang memanjang.

Sepanjang perjalanan, hanya ada lagu-lagu sedih dari playlist Mei yang mengisi ruang mobil. Ia memang selalu menyukai lagu dengan lirik patah hati dan nada minor. Musiknya mengalun pelan, seolah menjadi latar untuk sesuatu yang bahkan belum terjadi. Sementara itu, aku tak berkata apa-apa. Hanya menikmati es krim yang kubeli di rest area, membiarkannya meleleh perlahan sebelum sempat menghabiskannya.

Aku tidak tahu mengapa aku begitu diam hari itu. Mungkin karena lelah. Mungkin karena tidak merasa perlu berbicara. Atau mungkin, karena memang tidak bisa mengobrol karena aku tidak begitu akrab dengan teman-teman Mei ini..

Kami tiba di Bandung sekitar pukul tujuh malam. Udara kota itu terasa lebih dingin dibandingkan tempat asal kami. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya ke aspal yang sedikit lembap. Perut kami sudah keroncongan, jadi sebelum apa pun, kami sepakat mencari makan.

Bandung menawarkan terlalu banyak pilihan. Jalanan penuh dengan aroma makanan dan suara percakapan yang saling bersahutan. Di antara kebingungan memilih itulah, aku baru tahu satu hal kecil tentangnya, kami sama-sama tidak suka makan bebek. Hal yang sederhana, nyaris tak berarti, tapi entah mengapa terasa seperti menemukan potongan kecil yang cocok dalam teka-teki.

Jika tidak salah, malam itu aku memesan dimsum… atau mungkin roti bakar. Kenangan tentang makanannya mulai samar, seperti foto lama yang warnanya memudar. Tapi anehnya, ada detail yang justru masih sangat jelas di kepalaku.

Ia mengenakan kaus polos berwarna biru. Poninya yang panjang diikat ke belakang dengan santai, memperlihatkan wajahnya yang diterangi cahaya lampu kedai. Kacamata bulatnya memantulkan kilau kecil setiap kali ia menoleh.

Aku lupa rasa makanan yang kumakan malam itu.
Tapi aku tidak lupa bagaimana ia terlihat. 

Meskipun semuanya tampak seperti kebetulan yang tak direncanakan, belakangan aku tahu, ia sebenarnya sudah merencanakan perjalanan itu. Ia bersedia mengantar Mei ke Bandung, dengan satu syarat sederhana: aku ikut.

Hal itu membuat kenangan-kenangan kecil sebelum keberangkatan tiba-tiba terasa berbeda maknanya.

Beberapa jam sebelum kami berangkat, tiba-tiba ada abang Gofood yang datang ke kantor ku. Pengirimnya: Excel. Ia mengirimkan sushi ke tempat kerja ku. Tanpa alasan panjang, tanpa penjelasan berlebihan. Hanya makanan, dan sebuah catatan singkat di dalamnya.

“Selamat makan.” Iseeyaaa

Sederhana, namun terasa hangat.

Aku memang selalu lemah pada hal-hal kecil seperti itu. Catatan kecil, surat. hadiah sederhana yang tidak mahal, tapi terasa dipikirkan. Sentuhan perhatian yang tidak perlu diumumkan ke dunia, cukup diketahui oleh dua orang saja.

Awalnya aku sempat bertanya-tanya.
Ada apa?
Kenapa tiba-tiba?

Namun rasa heran itu tidak pernah lebih besar dari rasa senang yang diam-diam tumbuh di dalam dada. Aku menyukainya. Bukan hanya makanannya. Tapi maksud di baliknya.

Saat itu, aku belum tahu bahwa perhatian kecil seperti itu bisa menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.
Aku hanya tahu satu hal:
Aku tersenyum lebih lama dari biasanya hari itu.